Skip to main content

Tentang logo PON yang harus di ketahui

PON XX Papua sebenarnya berlangsung pada 2020, namun karena pandemi covid-19, pelaksanaannya diundur dan rencananya akan dilaksanakan pada 2 hingga 15 Oktober 2021 mendatang. Logo PON XX didasarkan pada kemegahan Stadion Lukas Enembe yang hampir setara dengan Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) di Jakarta dan stadion sepak bola terbesar kedua di dunia, Salt Lake di India.

Logo PON XX Papua yaitu kanguru bermata merah putih, puncak bersalju Puncak Jaya, ring lima warna dan maskot burung cenderawasih. Kanguru merupakan mamalia berkantung, hewan ini hanya ditemukan di Australia, Papua, dan Papua Nugini. Di Papua sendiri terdapat dua jenis kanguru yaitu kanguru tanah dan kanguru pohon.

Logo lama

Kanguru tanah Papua (Thylogale sp.) berukuran lebih kecil daripada kanguru tanah Australia, sedangkan spesies kanguru pohon (Dendrolagus sp.) di Papua lebih banyak daripada Australia. Bukti arkeologi menunjukkan fosil mandibula (rahang bawah) kanguru pernah ditemukan di Nimboran, Kabupaten Jayapura, fosil kanguru pernah ditemukan di Nimboran, Kabupaten Jayapura, fosil ini diberi nama Zygomaturus Nimboraensis.

Sedangkan Puncak Jaya merupakan puncak bersalju di daerah tropis atau bule mengenalnya sebagai Puncak Cartensz (Cartensz Top). Puncak Jaya memiliki tinggi 4.884 mdpl.

Oleh Suku Amungme sebagai pemilik ulayat puncak ini menamakannya Nemangkawi Ninggok yang berarti Puncak Anak Panah Berwarna Putih. Logo PON XX ini akhirnya berubah, desain logo yang baru dengan gambar kanguru akan dihilangkan. Logo PON XX yang dikenal publik, saat ini merupakan penyempurnaan dari logo sebelumnya. Gambar kanguru dihilangkan.

Logo Baru

Kenapa bisa begitu?

Seperti diketahui dalam logo ajang olahraga nasional tidak memperbolehkan menggunakan gambar hewan. Sedangkan untuk maskot masih diperbolehkan. Maskot PON XX Papua adalah Kangpho dan Drawa, Kangpho singkatan dari kanguru pohon dan Drawa singkatan dari Cenderawasih.

Comments

Popular posts from this blog

Tanjung Saruri Biak, Pesona ombak lautan pasifik

HAi  sobat  channel, Satu lagi objek wisata yang tak kalah menariknya di Distrik Warsa-Biak Utara. Itulah Tanjung Saruri, nama Objek wisata yang berada di Kampung Sor, Distrik Warsa- Biak Utara atau beberapa menyebutnya dengan sebutan batu Pica. Tanjung Saruri, Biak Utara Untuk sampai di Tanjung Saruri, membutuhkan waktu sekitar 1 jam berkendaraan, baik roda dua maupun roda empat dari kota Biak. Disini pengunjung dapat menyaksikan keindahan alam yang luar biasa dari samudra pasifik.Saat gelombang pasang ombak Samudera Pasifik menerpa batukarang, terciptalah semburan air yang menjulang tinggi. Ketinggian semburan ini dapat menecapai 15 m sobat shcannel. Tingginya semburan air tersebut menjadi daya tarik utama dari pantai yang berada di Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua ini. Ketika gelombang laut menghempas dinding batu landai yang datar dan memanjang (menyerupai lapangan batu ), maka air laut yang dihasilkan dari gelombang  yang menghempas dan menutupi lapangan batu te...

Cerita Kuskus hewan endemik Papua

Kuskus merupakan mamalia berkantung (Marsupialia) nokturnal termasuk dalam famili Phalangeridae. Ukuran Kuskus diketahui berkisar 15 cm sampai lebih dari 60 cm, namun kuskus berukuran rata-rata cenderung sekitar 45 cm (18 inci). Kuskus juga memiliki cakar yang panjang dan tajam yang membantu kuskus saat bergerak di sekitar pepohonan. Kuskus memiliki bulu yang tebal dan bermacam warna seperti coklat,hitam dan putih.Selain itu kuskus mempunyai ekor yang panjang dan kuat (prehensile) yang berfungsi sebagai alat untuk berpegangan saat berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya. Ekor kuskus juga menjadi senjata pertahanan dengan cara mengaitkan ekornya kuat-kuat pada batang atau cabang pohon. Tak disangka hewan sebesar kucing ini punya sejarah menemani manusia di masa lampau. Terlebih sebagai konsumsi sumber protein manusia. Penelitian para arkeolog dan antropolog pada Atlas Obscura menyimpulkan, Kuskus dekat dengan manusia sejak ribuan tahun lalu. Khususnya sebelum sapi, babi, kambing, bah...

Perahu Tradisional Biak

Kehebatan nenek moyang suku Biak dalam menjelajah lautan telah banyak dicatat dalam sejarah. Hal tersebut terlihat dari persebaran suku Biak ke berbagai daerah di Papua dan luar Papua. Keturunannya tersebar di Maluku, Raja Ampat dan hampir di semua pesisir tanah Besar Papua dari Barat hingga ke Timur, bahkan juga di Makassar. Kehebatan nenek moyang suku Biak dalam menjelajah lautan tidak terlepas dari perahu yang digunakan. Orang Biak membagi bentuk perahu menjadi tiga bagian yaitu perahu besar (Wai Beba), perahu sedang (Wai Fadu/Wai Fanobek) dan perahu kecil (Wai Kasun). Perahu besar terdiri atas 3 jenis yaitu Wairon, Waimansusu, Karures dan Pendes. Perahu sedang disebut Waipapan. Sedangkan perahu kecil, terdiri atas Karambow dan kawasa.  Wairon Wairon adalah jenis perahu perang yang biasanya dipakai untuk kegiatan jelajah tempur. Bentuknya dibuat sangat ramping, agar mudah melaju diatas lautan. Ukurannya bisa sedang sampai besar dan dapat memuat 20-30 orang. Walaupun keg...